Monday, April 23, 2007

Koflik Kelas di Virginia Tech

Ken Budha Kusumandaru*

Berita tentang penembakan yang terjadi di salah kampus Institute Politeknik Virginia merupakan hal yang banyak dibahas di koran-koran seantero dunia, termasuk Indonesia. Berita ini memang membuat kita terkejut, sebuah berita yang menakjubkan dan menggugah rasa ingin tahu kita.

Namun, seperti biasa, koran-koran Indonesia gagal melihat hakikat konflik kelas di balik semua gejala sosial, termasuk yang menghebohkan seperti penembakan yang menewaskan banyak orang itu. Dengan menganggap bahwa semua berita dapat disajikan secara berimbang, media massa tunduk pada hegemoni dan dominasi ideologi kapitalisme.

Padahal, sejak dini, terlihat sangat jelas bahwa di balik penembakan ini terdapat isu kelas yang kental. Para dosen dan teman seasrama dari si penembak, Cho Seung-hui, memberitahu bahwa Cho telah berulang kali menyatakan kebenciannya pada orang-orang kaya. Di samping itu, Cho telah pula mengirimkan satu paket pernyataan pada stasiun berita NBC yang menegaskan bahwa apa yang dilakukannya adalah sebuah pernyataan dari rasa tertekan yang dialaminya di tengah kehidupan sosialnya.

Harian-harian di Indonesia dengan tenang membebek pemberitaan asing, yang jelas berusaha meredam isu kelas di balik penembakan ini. Dengan terburu-buru, para ahli bayaran kapitalis berusaha meremehkan perbuatan Cho sebagai “perbuatan seorang gila”, “tindakan skizoprenik” atau peremehan lainnya. Ada juga yang menyalahkan “budaya senjata” di Amerika Serikat sebagai biang keladi yang memungkinkan terjadinya musibah ini.

Padahal, kita semua mengalami tekanan yang sama dengan apa yang dialami Cho Seung-hui. Di mana-mana kita dihantui oleh gaya hidup orang kaya, setiap detik kita dipaksa mengikuti cara hidup konsumtif, dipaksa membeli ini-itu jika tidak ingin dikecam sebagai “ketinggalan jaman” atau “tidak gaul” atau sebutan-sebutan tidak mengenakkan lainnya. Setiap kali kita memindah saluran televisi, kita melihat begitu banyak iklan. Setiap kali kita mencari tontonan yang bermutu, kita justru disuguhi sinetron-sinetron yang mengumbar prikehidupan orang kaya yang tidak bermoral.

Banyak orang di negeri ini yang sama tidak tahannya dengan Cho terhadap tekanan ini. Kita sudah mendengar berulangkali bagaimana seorang anak SD membunuh diri karena tidak dibelikan HP, atau seorang anak yang tega mengampak bapaknya karena tidak dibelikan motor. Pada hakikatnya, apa yang terjadi sama saja. Cuma skalanya yang tidak terlalu menghebohkan. Cho memilih untuk membuat sebuah pernyataan melalui tindakannya.

Budaya senjata juga tidak dapat disalahkan. Semua bangsa di dunia ini memiliki “budaya senjata”. Kita tahu bahwa orang Madura terkenal dengan cluritnya. Jangan keluar rumah tanpa membawa clurit, mungkin begitu. Hampir semua rumah tangga di negeri ini punya semacam senjata – entah itu golok, pedang, mandau, keris, kujang, apa saja. Budaya senjata adalah ciri sebuah masyarakat berkelas, yang cenderung menyelesaikan masalah melalui kekerasan.

Dan contoh mengenai kekerasan ini kita lihat tiap hari di negeri ini juga. Penggusuran oleh Satpol PP, perkelahian antara polisi dan tentara berebut jatah wilayah, premanisme, penyerangan Papernas oleh organisasi yang menyebut dirinya “Islam”. Bahkan para calon pejabat di negeri inipun dididik untuk melakukan kekerasan – seperti yang kita lihat di IPDN, sebuah lembaga “sipil” yang notabene didirikan oleh dua orang Jenderal.

Kita jelas berduka karena insiden penembakan di Virgina memakan begitu banyak korban. Tapi kita lebih berduka lagi karena apa yang dilakukan Cho, dan begitu banyak lagi orang lain di seluruh penjuru dunia, merupakan bukti ketidaktahuan mereka dan ketidakpahaman mereka akan sebuah ideologi alternatif – sosialisme. Jika saja, enerji dan tekad yang membara di dada Cho disalurkannya untuk membangun sebuah organ mahasiswa sosialis di kampusnya, ada kemungkinan perjuangannya menentang “orang-orang kaya” itu bisa menguntungkan lebih banyak orang. Tentu saja ia masih mungkin mati dalam perjuangan itu. Tentu saja perjuangan itu belum tentu berhasil. Tapi sekian banyak orang akan mendapat keuntungan dari perjuangannya – dan pernyataannya tentang kebencian pada “orang-orang kaya” akan dapat dialihkan menjadi kecintaan pada “mereka yang dimiskinkan dan ditindas”.

Tragedi yang sesungguhnya adalah karena umat manusia sudah demikian tertekan oleh dominasi kapitalisme, dan gerakan sosialis masih sibuk dengan dirinya sendiri, bukannya merangkul rakyat tertindas itu untuk bersama melawan pemiskinan yang menimpa mereka.

Pertarungan “orang kaya melawan orang miskin” telah berlangsung ribuan tahun, sejak masyarakat berkelas pertama tumbuh di muka bumi. Peperangan ini telah memakan banyak korban. Dan peperangan ini masih akan terus berlangsung, dalam berbagai bentuk dan tingkatan, jika masyarakat masih terbelah dalam kelas-kelas. Apa yang dilakukan Cho keliru, karena ia tidak membawa kegundahan hatinya dan mengangkat obor perang kelas – dia justru asyik-masyuk dengan perang pribadinya, menjadi superhero, dan justru menghasilkan propaganda yang merugikan perjuangan kelas itu secara umum.

Masih banyak orang seperti Cho di negeri kita sendiri. Mari bangkitkan mereka agar mempergunakan tenaga, tekad dan semangat pembalasan mereka dalam sebuah persatuan dengan seluruh rakyat tertindas – untuk mencapai kemenangan kelas pekerja atas penindasan dan pemiskinan.

*Ketua Divisi Pendidikan KP PRP

No comments: