Ken Budha Kusumandaru*
Kita tidak boleh bosan-bosan bicara tentang pembagian peran antara Organisasi Politik dan Organisasi Massa. Ini adalah kunci bagi terciptanya sebuah perjuangan kelas yang efektif di negeri ini. Tanpa memahami peran yang harus dimainkan dalam berbagai posisi, akan terjadi penumpukan kerja – dan, yang lebih parah, kekosongan kerja di tempat lain.
Judul di atas adalah sebuah seruan bergerak yang diputuskan oleh rapat-rapat Komite Pusat selama beberapa bulan terakhir. Ketiga hal ini – Propaganda, Rekrutmen, Pendidikan – adalah tugas-tugas yang harus dilakukan oleh seorang anggota PRP dalam perannya sebagai seorang pejuang kelas. Kita akan terus menelusuri apa kiranya yang menjadi tugas anggota PRP dalam perannya sebagai anggota ormas tertentu. Tapi, tidak peduli di ormas manapun ia bekerja, ketiga tugas inilah yang harus dilakukan seorang anggota PRP (minimal) tujuh jam seminggu, tapi dianjurkan dilakukan delapan jam sehari.
P: Propaganda
Hari ini kita dikepung oleh hegemoni kelas kapitalis. Berita apapun yang kita dengar, acara apapun yang kita tonton, pelajaran apapun yang kita terima di bangku sekolah – semua mengandung sudut pandang yang sesuai dengan kepentingan kelas kapitalis. Acara lawak seperti Empat Mata sekalipun selalu diselipi dengan propaganda kapitalis.
Sebagai anggota PRP, tugas kita adalah mencermati setiap kejadian sosial yang berlangsung di sekitar kita – baik dalam skala lokal, regional maupun nasional – dan mencari sudut pandang kelas pekerja untuk melihat masalah tersebut. Seorang kawan pernah mencibir, “Masa setiap hal dikomentari? Nanti massa bosan.” Tapi, hegemoni justru dibangun dengan cara ini: semua hal dikomentari. Kebangkitan gerakan kanan belakangan ini justru karena mereka nampaknya memiliki jawaban universal, mencakup segala hal. Sesungguhnya tidak begitu, tapi karena mereka mengomentari semua hal, jadi kelihatan begitu.
Jika di pabrik anda terdapat lebih dari satu orang anggota PRP, biasakanlah berkumpul minimal sekali sehari. Diskusikanlah isi koran. Boleh koran lokal atau nasional. Pergunakanlah isi pelajaran MDH atau pengantar filsafat yang pernah anda dapat untuk menganalisa. Kumpulkan tema-tema yang menarik dan bagi tugas untuk menuliskannya. Ajukan tulisan ini pada komite kota, agar diteruskan ke komite pusat. Jika sudah ada persetujuan dari komite pusat, tulisan ini boleh disebarkan dalam bentuk selebaran komite kota atau selebaran tingkat pabrik atau dalam bentuk lain sesuai kebutuhan.
Seminggu sekali, berkumpullah di sekretariat komite kota. Mintalah print-out, hasil cetakan dari statement dan/atau artikel-artikel yang dikeluarkan oleh anggota-anggota komite pusat. Diskusikanlah isinya. Sampaikan hasilnya, baik berupa pertanyaan, penolakan atau persetujuan, kepada komite pusat. Ini akan berfungsi sebagai umpan-balik untuk memperbaiki isi propaganda komite pusat di masa mendatang.
Jangan lupa juga untuk selalu mencari dan membuat forum-forum di mana propaganda kita dapat didiskusikan. Tanpa adanya forum-forum semacam ini, akan percumalah kita membuat propaganda. Jangan lupa bahwa aksi massa merupakan salah satu alat propaganda yang ampuh.
R: Rekrutmen
Kalau orang sudah setuju dengan propaganda kita, apa yang harus dilakukan? Tentunya ditawari untuk menjadi anggota PRP. Tiap anggota PRP harus membuat janji pada dirinya sendiri: ia harus bisa merekrut anggota baru seminggu sekali, atau dua minggu sekali, atau sebulan sekali, tergantung kemampuannya sendiri. Jangan memaksakan diri, tapi jangan pula terlalu longgar pada diri sendiri. Kita bekerja sebatas kemampuan, tapi jangan kurang dari itu.
Jika sudah ada calon rekrut, bawalah ke sekretariat dan sodorkanlah formulir keanggotaan padanya. Buat dia mengisi formulir itu di situ juga, jangan mengisi di rumah. Katakan padanya untuk membawa kelengkapan pengisian formulir, misalnya foto, ketika akan mengisi formulir. Tapi, jangan pula biarkan alasan-alasan seperti tidak ada foto menghalangi dia untuk mengisi formulir. Kalaupun tidak ada foto, tetap buat calon rekrut itu mengisi formulir.
P: Pendidikan
Setelah seorang direkrut menjadi anggota PRP, ia harus segera dididik untuk dapat melakukan Propaganda dan Rekrutmen secepatnya. Tanyakan pada Sekretaris Kota, kapan jadwal pendidikan dasar berikutnya. Usahakan agar anggota yang baru anda rekrut ikut dalam pendidikan dasar secepat mungkin. Sementara menunggu jadwal pendidikan dasar berikutnya, anda dapat melibatkan anggota baru ini dalam penyusunan propaganda seperti yang di atas. Ikutkanlah anggota baru ini dalam perencanaan kegiatan-kegiatan organisasi, agar secepatnya ia merasa menjadi bagian utuh dari organisasi.
Penutup
Tugas kita dalam perjuangan kelas bukan hanya Propaganda, Rekrutmen dan Pendidikan. Tapi, pada saat ini, ketiga tugas inilah yang harus mendapat perhatian kita secara sungguh-sungguh. Inilah prioritas kerja kita. Inilah tugas-tugas yang akan menjadi landasan untuk kerja-kerja perjuangan kelas lain yang lebih berat di masa mendatang.
*Ketua Divisi Pendidikan KP PRP
Tuesday, May 8, 2007
PRP: Propaganda, Rekrutmen, Pendidikan
Posted by
Perhimpunan Rakyat Pekerja
at
1:40 PM
0
comments
Labels: Kegiatan, Profil Organisasi, Seluk Beluk
Thursday, May 3, 2007
Sekilas MAYDAY 2007
“BURUH BERKUASA RAKYAT SEJAHTERA”
"HANYA KEKUASAAN RAKYAT PEKERJA
YANG BISA CIPTAKAN KEADILAN SOSIAL,
BUKAN SEPERTI PEMERINTAHAN SBY-JK yang ANTEK KAUM PENGUSAHA"Lewat aksi Mayday 2007 kaum buruh melakukan 2 hal: Pertama, mensyukuri kemenangan dalam seharah buruh sedunia yang telah memenangkan tuntutan bekerja wajib cukup 8 jam sehari. Kedua, pertanda gerakan buruh yang memahami sejarah bahwa aksi yang mempersatukan buruh dari berbagi tempat harus dilakukan untuk menunjukkan tuntutan siapa yang harus bertanggungjawab atas ketidakadilan sosial yang mereka alami. Kita harus menuntut duet penguasa Indonesia hari ini, yaitu: PEMERINTAH dan PENGUSAHA, keduanya lah yang telah membuat NEGARA kita berwatak penindas dan penjarah terhadap rakyatnya sendiri.
Pada tanggal 1 Mei 2007, terjadi berbagai aksi demonstrasi yang merayakan Hari Buruh Internasional di seluruh Indonesia. Kaum buruh telah berhasil menunjukkan secara terbuka bahwa di negeri ini orang berhak merayakan hari raya-nya rakyat pekerja. Tanggal 1 Mei lebih gampang diingat sebagai Hari Buruh, dan selama puluhan tahun di negeri ini hari rayanya Rakyat Pekerja ini dilarang oleh pemerintah Orde Baru/Suharto. "Hari Buruh Internasional" biasa dilarang dan difitnah sebagai perayaan Komunis, dan semua yang dicap Komunis oleh kekuasaan kekerasan dinyatakan tidak berhak hidup di Indonesia. Semua orang tahu, tiap penjajahan dan penindasan selalu membutuhkan penipuan sejarah yang mempengaruhi kesadaran rakyat untuk tidak bangkit melawan.
Tahun ini Mayday telah menyuarakan suatu sikap yang jelas dari rakyat pekerja: TOLAK PENJAJAHAN BARU! Hari Buruh 2007 telah menjadi ruang pertemuan bersama buat serikat buruh, organisasi pemuda miskin kota, kelompok mahasiswa, kelompok perempuan, dan semua orang yang mengambil posisi memperjuangkan KEADILAN SOSIAL yang gagal diwujudkan oleh pemerintah. Menolak Penjajahan Baru artinya; kita menolak penindasan terhadap rakyat yang lemah di negeri ini oleh siapa pun juga. Kini 60 tahun lebih setelah kita mengakhiri pejajahan kolonialisme Belanda, ternyata penjajahan baru telah mengakibatkan: UPAH BURUH MURAH dan LEMAH KEPASTIAN KERJA (lantaran merajalelanya sistem kerja kontrak dan outsourcing), PETANI tak punya tanah untuk bercocok tanam, NELAYAN sulit melaut karena harga BBM tak lagi terbeli, RAKYAT MISKIN KOTA tak punya lapangan pekerjaan.
Ini semua terjadi karena PEMBANGUNAN ekonomi kita hanya dirumuskan dan diputuskan oleh PENGUSAHA dan PEMERINTAH. Bahkan hari ini kita melihat bahwa yang berkuasa adalah PEMERINTAHAN PENGUSAHA. Pengusaha yang memandang sebelah mata hak RAKYAT PEKERJA untuk menentukan jalannya pembangunan. Dengan mengatasnamakan seluruh bangsa, kaum pengusaha selalu beranggapan bahwa mereka lah yang paling berjasa menyediakan kekayaan negara.
Padahal sejarah menunjukkan bagaimana pembangunan yang digerakkan oleh KAUM PENGUSAHA telah mengakibatkan menumpuknya hutang-hutang luar negeri yang menumpuk dan meledak sebagai krisis ekonomi sejak 1998 dan tidak pernah usai. Keserakahan dalam kegiatan usaha telah menyebaban kerusakan lingkungan, keuntungan yang mereka dapatkan dari produksi justru membuat masyarakat sekitarnya terus tertinggal. Lihat apa yang terjadi pada saudara-saudara kita di Sidoardjo dan Timika, semua bukti nyata KESERAKAHAN KAUM PENGUSAHA yang terus dilindungi oleh PEMERINTAH SBY-JK.Hari Buruh 1 Mei 2007 sekaligus menjadi alat kaum buruh menolak rencana revisi Undang Undang Ketenagakerjaan. Dasar pertimbangan rencana revisi itu dilakukan untuk menarik perhatian MODAL ASING agar tertarik lebih banyak berusaha di negeri ini. Kaum MODAL menginginkan para PEKERJA menjual tenaganya dengan sedikit saja perlindungan dan keselamatan yang diatur oleh hukum. Akibatnya yang merajalela adalah Sistem Kerja Kontrak dan Outsourcing yang tidak melindungi buruh. Kerja Kontrak dan Outsourcing merampas kekuatan yang dimiliki oleh buruh untuk membuat perjanjian kerja secara kolektif alias bersama-sama dengan menggunakan serikat buruh. Perjanjian kerja kontrak atau outsourcing biasanya dilaksanakan antara Agensi atau Yayasan atau Perusahaan Penyalur Kerja dengan kita si pekerja secara perorangan. Praktek di Indonesia, sistem kerja kontrak diberlakukan secara pukul-rata. Semua pekerjaan diterapkan sistem kontrak dan outsourcing akibatnya rakyat pekerja kita terus menjadi kuli walau sudah bekerja bertahun-tahun bahkan belasan tahun. Jarang tersedia kesempatan melakukan tawar-menawar karena pengusaha menerapkan perjanjian secara perorangan, tanpa serikat buruh, maka terjadilah kompetisi antar calon pekerja — yang jumlahnya banyak karena meluasnya pengangguran.
Penjajahan itu HARUS DILENYAPKAN dari bumi manusia. Tugas itu terletak di tangan kita sekarang: RAKYAT PEKERJA. Tapi jangan lupa banyak pengkhianat di kalangan pimpinan-pimpinan serikat buruh dan partai-partai busuk yang justru senang bila kaum buruh terus bodoh -- supaya mereka bisa bertambah kaya dan punya jabatan. Para elit serikat dan partai yang justru mengkhianati perjuangan rakyat pekerja. Lihat bagaimana tahun ini mereka tidak mau mengulangi Mayday tahun lalu, karena mereka sudah melihat bagaimana kerasnya perlawanan kaum buruh. Sudah saatnya kita berkaca kalau kita membutuhkan KONFEDERASI SERIKAT BURUH BARU (diluar KSPI, KSPSI, KSBSI yang semuanya telah dicocok hidungnya oleh pemerintah) Hanya KONFEDERASI BURUH baru yang bisa memperjuangkan UPAH LAYAK NASIONAL.
Seluruh rakyat pekerja di Indonesia harus mendukung perjuangan kaum buruh dengan MENUNTUT PEMERINTAH MENYEDIAKAN LAPANGAN KERJA yang LAYAK. Persatuan Rakyat Pekerja dari berbagai kalangan pasti bisa mewujudkan NEGARA seperti yang dinyanyikan Iwan Fals.
.....
Negara harus bebaskan biaya pendidikan, Negara harus bebaskan biaya kesehatan
Negara harus ciptakan pekerjaan, Negara harus adil tidak memihak
Oleh karena itu bebaskan biaya pendidikan, Biar kita pandai mengarungi samudera hidup
Biar kita tak mudah dibodohi dan ditipu, Oleh karena itu biarkan kami sehat
Agar mampu menjaga kedaulatan tanah air ini
Negara negara
Negara harus seperti itu
Bukan hanya di surga di dunia pun bisa
Negara negara
Negara harus begitu
Kalau tidak bubarkan saja
.....
(Iwan Fals;2007)
Posted by
Perhimpunan Rakyat Pekerja
at
5:12 PM
0
comments
Friday, April 20, 2007
Aksi bagi selebaran PRP Jakarta Raya
Tanggal 7 April kemaren, PRP Jakarta dan PRP Pusat melakukan aksi bagi2 selebaran di jalur kereta Jakarta-Bogor. Aksi ini adalah bentuk persiapan atau pemanasan menjelang May Day, jadi isi selebaranya juga soal May Day. Tapi selebaranya gak cuman selebaran PRP sendiri. Karena dananya cekak (cuman bisa copy 200 lembar doang, karena pas mau cetak hari Jum’at pada tutup), maka kita tambahin pake selebaran ABM.
Aksinya mulai dari jam 12 sampai jam setengah 4. yang ikut aksi sebanyak 10 orang, dari sekitar 25 orang yang dundang. Alfa, Kantau, Renjay dan rombongan anak2 OPR (Organisasi Pemuda Rakyat, 4 orang), Yanti dan Yanti M (SBHI),sama Sekjend kita Jemi.
Respon dari orang2 di kereta ada banyak, yang selebaranya dibuang, ada yang dibaca serius, ada juga yang gak belum dapet terus minta selebaran. Tapi kayaknya orang2 pada kaget karena aksi model kayak gini udah jarang banget dilakuin sama gerakan2 jaman sekarang. Padahal orang2 yang naik kereta kan umumnya ekonominya menengah kebawah, dan umumnya awam soal begituan. Jadi kayaknya pas kalo kita bagi selebaran soal sosialisasi May Day sama mereka.
Ada juga tkangdagang yang ngerespon antusias soal aksi May Day ini, dengan mengatakan “kita harus dating nih di acara May Day ini……….”, kayaknya sih karena dia pengen jualan. Tapi lumayan mereka bisa ngeramaiin aksi May Day besok. Rencana selanjutnya kita akan buat famplet2 yang berisikan May Day juga untuk ditempel di basis2 perkampungan dan kampus2. Juga selebaran untuk dikasih ke anggota PRP, jadi mereka nanti sepulang kerja misalkan bisa ngasih selebaran itu ke penumpang di Bis, kalau yang naek taksi ya ………. Kasih beberapa selebaran ke abangnya untuk disebarin ke temen2 sopir taksi laen. Tapi berhubung dananya gak ada nih, gw nawarin untuk temen2 anggota PRP bisa patungan untuk cetak selebaran dan famplet itu dan bantu bikin selebaranya. Yah ………. Satu orang 2000 perak juga lumayan kalau ngumpul.
Aksi kayak gini bisa dijadikan juga sebagai ajang konsolidasi PRP Jakarta. Kemaren2 kita kan kabrut nih, susah banget dikumpulin untuk rapat. Jadi kita langsung action aja kali ini. Dan bukan dari para pengurusnya yang memulai (karena pengurusnya gak pernah rapat), tapi kali ini dari bawah (basis) yang memulai geraknya. OPR (Pemuda Mampang) akan bikin diskusi2 di kampungnya, tanggal 8 kemaren soal sejarah gerakan buruh. Si Eka yang ngisi. Agenda selanjutnya tar gw kontak s Renjay dulu. KOMPAK (Pemuda Pekojan) juga akan bikin diskusi 2 minggu sebelum May Day, dan aksi sosialisasi May Day disekitar kampungnya (waktunya tar gw kasih tahu).
Gw harapkan partisipasi kawan2 anggota yang laen untuk persiapan merespon May Day
Posted by
Perhimpunan Rakyat Pekerja
at
12:48 PM
0
comments
Labels: Kegiatan, Profil Organisasi, Seluk Beluk
Monday, April 16, 2007
1 Mei 2007 harus jadi hari yang berkesan karena MayDay hari gembira buat rakyat pekerja
Irwansyah*
Ide bergembira dengan merayakan sebuah libur kaum proletar sebagai sebuah cara untuk mendapatkan hak bekerja 8 jam sehari pertama kali lahir di Australia. Para pekerja di sana memutuskan pada tahun 1856 untuk mengorganisasikan sebuah hari yang sepenuhnya berhenti kerja bersamaan dengan rapat-rapat akbar dan hiburan sebagai sebuah unjuk rasa hak kerja 8 jam demi kerja 8 jam sehari. Awalnya, perayaan para pekerja Australia ini ditujukan hanya untuk dilaksanakan pada tahun 1856 saja. Tapi perayaan pertama ini memiliki sebuah efek yang sedemikian kuat pada mass proletariat di Australia, menghidupkan semangat merekadan mengarah pada agitasi baru, sehingga diputuskan untuk mengulangi perayaan ini setiap tahun.
(Rosa Luxemburg, What Are the Origins of May Day?/ Apa Asal Mulanya May Day?, 1894)
Tahun 2006 punya arti khusus buat sejarah kontemporer perayaan May Day di Indonesia karena besarnya kekuatan massa yang ikut serta, khususnya di kota-kota besar di Pulau Jawan, dalam perayaan hari buruh Internasional. Bagaikan air bah yang melanda pusat-pusat kekuasaan kota Jakarta, ratusan ribu massa aksi menjadi arus orang berbaris memenuhi, hingga praktis menghentikan arus kendaraan yang biasa melintas, di dua lokus utama:jalur bundaran HI-Istana Merdeka dan depan gerbang DPR.
Sungguhnya hanya massa Aliansi Buruh Menggugat (ABM) di jalur HI-Istana Merdeka yang dengan resmi dan terbuka mengumumkan bahwa mereka melakukan unjuk rasa di jalan dalam ,merayaakn Hari Buruh Internasional, dimana tema tahun tersebut mengajukan tuntutan penolakan terhadap rencana revisi Undang-Undang Ketenagakerjaan (UUK). Dua serikat buruh lain yang juga menurunkan massa dalam jumlah besar di lokus lain secara politik sebetulnya tidak berkeinginan merayakan Mayday karena konservatisme politik mereka yang anti warna politik kiri/sosialis.
Situasi yang terbentuk beberapa bulan menjelang perayaan Mayday sudah kadung disesaki oleh gelombang aksi penolakan Revisi UUK. Gelombang aksi yang mengambil bentuk-bentuk tindakan cenderung ofensif/menyerang, seperti: sweeping di pabrik-pabrik dan kawasan industri, demonstrasi yang melakukan pamer kekuatan massa seperti beberapa kali aksi besar di depan istana yang diikuti perusakan busway. Akibatnya meningkat lah suhu politik dan menebalnya opini publik tentang kemungkinan konfrontasi keras yang tak terhindarkan lagi antara sikap keras aksi buruh dan kengototan negara memaksa perubahan UUK. Memasuki tanggal 1 May , yang adalah hari Buruh Internasional, publik terkondisikan melihatnya sebagai gelanggang pertarungan yang menentukan.Semua kelompok buruh diuntungkan oleh suasana yang terbentuk, dan terjadi lah perayaan Mayday yang paling besar aksi massanya dalam sejarah Indonesia sejak Orde Baru. Amat banyak orang ingin turun ke jalan, mengharapkan melihat suatu kehebohan walau pun tidak satu pun tahu apa pastinya itu.
Ternyata sesuatu yang heboh itu tidak terjadi dalam bentuk kerusuhan atau kekerasan fisik seperti yang dipropagandakan rezim sebagai ancaman. Bentrokan akibat unjuk rasa menolak UUK baru terjadi dua hari berselang, ketika serikat buruh yang menghindari merayakan Mayday ternyata tidak bisa menghindar dari memanasnya energi massa anggotanya yang teradikalisasi oleh suasana politisasi yang intensif seputar momentum penolakan revisi UUK. Setelah itu revisi UUK diputuskan untuk ditunda oleh pemerintah dengan berbagai alasan, dan secara sepintas bisa diduga ada kenangan yang melihat Mayday sebagai faktor penting yang berpengaruh terhadap pilihan politik menunda revisi UUK. Hanya saja kesadaran rakyat pekerja belum tentu peka dengan implikasi dari taktik ini bahwa penundaan justru memungkinkan rejim borjuasi yang berkuasa mengelabui pandangan mata dan mempersiapkan cara mengubah UUK (yang juga sudah ditolak oleh banyak serikat buruh progresif karena bukan lah juga sebuah UU yang berpihak pada buruh) dengan cara yang lebih menghindari konfrontasi terbuka. Sebuah taktik politik yang bertumpu pada keyakinan bahwa rakyat mudah lupa, dan pimpinan-pimpinan rakyat pasti bisa dikooptasi.
Mayday sebagai bentuk Kesadaran yang Menyejarah
Perayaan May Day paska jatuhnya rezim Orde Baru-Suharto, yang kebijakan politiknya sangat anti kekuatan buruh progresif terorganisir, mulai dirayakan lagi oleh kaum buruh Indonesia sejak tahun 2000. Rezim memang berganti tapi tetap saja hegemoni politik kelas borjuasi bekerja lewat segala cara untuk mempertahankan tabu perayaan hari berbahagianya rakyat pekerja ini.Rejim borjuasi yang berganti-ganti di masa "reformasi (neoliberalisme)", semuanya menjadi sama dalam posisi yang tidak pernah mendukung usaha bangkitnya rakyat pekerja sebagai kekuatan politik.
Semua rezim borjuasi paska rezim otoriter pro pasar Suharto ternyata tetap mendasarkan kekuasaan politiknya demi melindungi kegiatan pembangunan ekonomi yang berorientasi pada usaha bersaing menjual produk pada pasar internasional. Keberhasilan pembangunan ekonomi diyakini sangat bergantung pada kemampuan memaksimalkan keunggulan komparatif produksi barang dan jasa yang bisa menghasilkan pendapatan nasional. Maksimalisasi keunggulan yang paling diandalkan adalah eksploitasi hubungan kerja (dan dimensi sosialnya) dalam konteks produksi, yang seminimal mungkin memenuhi kebutuhan-kebutuhan layak manusiawi bagi rakyat pekerja. Bentuknya bermacam-macam penindasan: upah buruh murah dibawah kelayakan, keselamatan kerja dilalaikan (dan terkait pada keselamatan produknya juga: lihat fenomena kecelakaan transportasi yang merajalela dewasa ini), waktu bekerja yang panjang dan mengabaikan aspek kesehatan, dan "jurus" memaksimalkan keuntungan yang termutahir adalah : dihancurkannya kepastian kerja dengan memaksimalkan pasar tenaga kerja yang lentur/fleksibel mengikuti kepentingan modal (Labour Market Flexibility).
Trotsky mencatat May Day mengandung tuntutan-tuntutan fundamental kaum proletar, yaitu: kerja 8 jam sehari (hak sipil politik sekaligus tuntutan ekonomi yang berpijak pada kebutuhan mempertahankan kemanusiaan kaum pekerja), solidaritas internasional (pemahaman bahwa yang dihadapi adalah sistem global), dan perjuangan melawan militerisme (yang dipergunakan untuk menindas aksi-aksi buruh) Tapi apakah setiap aksi May Day mampu memperjelas esensi dari 3 tuntutan fundamental itu? Jawabnya sangat tergantung pada strategi yang dipergunakan gerakan sosial, khususnya gerakan buruh, untuk mematrikan kesadaran itu di tingkatan massa, lewat berbagai jalur namun muaranya satu: terciptanya kesadaran kelas.
Justru strategi pembentukan kesadaran itu lah yang pertama kali dipilih oleh gerakan rakyat pekerja di Australia pada tahun 1856 seperti yang dicatat Luxemburg. Merayakan dengan kegembiraan dilakukan dalam bentuk rapat-rapat akbar dan berbagai hiburan telah menyatukan kerumunan massa dalam sentimen politik kelas yang berkesan mendalam. Kegembiraan yang menyebarkan energi keberanian dan pengenalan diri sendiri dalam identitas kesatuan sebagai kelas sosial yang berjuang melawan "nasib" ketertindasan. Akibatnya dia efektif bergulir terus dan tidak berhenti dipraktekan hanya di Australia, tapi jadi perayaan kaum buruh secara Internasional.
Semakin banyak orang yang berkumpul semakin meriah kegembiraan yang tercipta dari perayaan May Day. "The More The Merrier" begitu kata ungkapan bahasa Inggris, dan kegembiraan memudahkan berkembangnya aneka ragam ekspresi perlawanan kelas yang tidak melulu berbentuk agitasi politik secara vulgar. Membatasi terbangunnya budaya ekspresif dari aksi massa populer seperti May Day maka kekuatan konservatif dan reaksioner mencoba menghentikannya dengan 2 cara: pelarangan dan depolitisasi perayaan May Day. Pelarangan diharapkan menciptakan rasa takut yang menular dan akhirnya ditinggalkan oleh massa rakyat pekerja, sementara depolitisasi mengambil berbagai bentuk yang berusaha menjadikan May Day sekedar ritual/upacara tapi bukan lagi medium ekspresi politik kelas. Sejarah menunjukkan salah satu taktik yang umum diterapkan adalah meliburkan buruh pada saat May Day, libur yang diharapkan justru dipergunakan untuk kegiatan apa pun yang tidak politis.
Tampaknya belum ada yang telah menganalisa energi politik sekaligus kegembiraan yang bisa ditangkap dari momentum perayaan May Day -- terutama 2006 yang besar sekali dalam ukuran massa.Menunjukkan tidak ada yang sudah siap memahami kesadaran massa sebagai sebuah dimensi yang menyejarah. Akibatnya ketika secara empiris hingga hari ini tidak ada gejolak aksi buruh yang mengelegak seperti yang terjadi tahun lalu maka sedikit orang ingat arti penting energi kegembiraan dalam momentum perayaan May Day. Banyak pimpinan buruh sudah pesimis dengan kemungkinan membesarnya aksi May Day, walau menyadari bahwa semua agenda musuh yang berkeinginan melegalkan penataan penindasan buruh supaya lebih sesuai dengan reformasi 'neoliberal' ternyata terus berjalan. Bahkan ada statement "May Day 2006 terjadi karena serikat buruh konservatif lah yang memulai mengagitasi massa, dan kini mereka tidak melakukannya lagi sehingga peluang terulang kembali menjadi kecil"
Pertanyaan yang tidak (mau) dijawab adalah: "Apakah massa buruh memiliki memori/ingatan yang tersambung dengan kenangannya akan May Day yang fenomenal tahun lalu?" Tidak dijawab karena tidak ada yang tahu jawabannya dan bagaimana menemukan jawabannya. Waktu dibiarkan terus mengerogoti ke batas waktu hari-H tanggal 1 May. Bukti pasti memang tidak bisa didapatkan kecuali dengan melakukan pengukuran, tapi yang pasti orang/massa bisa lupa ketika tidak ada usaha mengingat apa yang pernah menjadi suatu kesadaran. Tugas dari Organisasi Politik Kelas Pekerja seperti PRP adalah bekerja dengan kesadaran massa yang menyejarah itu.
Bagaimana Membangun Ingatan Politik Kelas
Kita percaya bahwa Rakyat Pekerja seperti juga pengertian Proletar sesungguhnya memiliki pengertian yang tidak terbatas pada buruh saja. Unsur yang harus paling maju adalah elemen buruh karena secara potensial berkonfrontasi paling intensif dengan kapitalisme di proses produksi. Hanya saja mensimplifikasi posisi hirarkis (paling maju, paling baru, paling rentan, dll) diantara elemen rakyat pekerja memiliki implikasi yang fatalis juga. Kita tetap harus memperhatikan relasi konkret antara kapasitas politik dari masing-masing organisasi sektor (pembagian elemen rakyat pekerja berdasarkan tipe keterkaitannya dengan produksi) dengan dinamika perubahan konteks sosial politik yang terjadi.
Umumnya dulu praktek yang umum adalah memposisikan elemen sektor-sektor non buruh (dan tani) sebagai kelompok yang harus mendampingi/mengadvokasi/mensupport mobilisasi aksi buruh (dan tani) Ketika konteks sosial politik berubah, jarang ada revisi dari strategi lama gerakan "pendampingan". Implikasinya bisa akut dalam kesadaran yang menganggap formasi kelas sosial -- dalam hal ini kelas pekerja -- bukan lah proses yang menyejarah dan beririsan dengan berbagai dimensi lain yang umumnya melibatkan pengalaman bersama/kolektif menghadapi situasi politik yang konkret. Akibatnya terbina lah kesadaran bahwa Mahasiswa, Intelektual, Pemuda -- dan macam-macam kategori yang bermunculan dalam sejarah -- bukan lah bagian dari formasi kelas pekerja. Kelas pekerja secara reduksionis disempitkan dalam pemahaman non Marxis yaitu sebagai posisi sosial dalam proses produksi (buruh atau pengusaha) dan bukan berangkat dari pengertian mengenai relasi sosial produksi dan formasi kelas yang menyejarah karena pengalamana bersama.
Jadi bisa kita periksa kegagapan gerakan buruh ketika berhadapan dengan reaksi propaganda balik dari rejim tahun 2006 yang menyatakan "tuntutan menolak pasar tenaga kerja yang fleksibel adalah sikap egois kaum buruh karena membatasi jumlah penyerapan tenaga kerja baru" Dalam asumsi paradigmatik rejim borjuis, krisis ekonomi bisa diatasi bila aturan ketenagakerjaan lebih kompromistis dengan keinginan modal yang menghendaki dikuranginya perlindungan kepastian hubungan kerja ( diperkenankan secara luas sistem outsourcing dan sistem kontrak) Seolah peran pengorbanan di lapangan politik ketenagakerjaan itu akan menjadi solusi yang adil bagi semua dan pada gilirannya akan menghasilkan kesejahteraan buat semua. Kita semua tahu itu tidak mungkin terjadi kalau kaum buruh bukan lah kekuatan politik yang memiliki posisi tawar yang sebanding dengan kaum borjuasi dan negara yang dikuasainya. Tapi tetap saja gerakan buruh tidak bisa mempropagankan secara luas seperti apa solusi tandingan yang bisa memberikan keadilan bagi kelas-kelas sosial lain -- termasuk bagi kelas buruh sendiri yang banyak anggotanya kehilangan pegangan karena diterjang fenomena PHK massal yang terus menerus. Ada persoalan dalam "Soal apa yang dipropagandakan" dan "Taktik-taktik propaganda"
Bila kita mau merubah cara pandang dan tindakan, maka jelas solusinya ada pada peningkatan peran elemen-elemen kelas buruh di ruang-ruang yang lebih luas dengan taktik yang lebih variatif pula. Bukan lagi pakai taktik mahasiswa sebagai tenaga mobilisasi untuk aksi, yang sekarang telah dikuasai dengan baik fungsinya oleh serikat buruh, tapi melibatkan mahasiswa untuk mengalami politisasi dan ideologisasi politik kelas pekerja. Begitu juga dengan elemen lain; seperti Pemuda, dan lain-lainnya yang umumnya berlokasi sosial di komunitas pemukiman.
Cara yang bergembira dan bersemangat, umumnya difasilitasi cara-cara kebudayaan/kesenian, akan menjadi alat propaganda politik kelas yang menunjukkan perlunya memberi ruang kepemimpinan politik pada kelas sosial selain borjuis. Masyarakat bisa diajak melihat kontras antara politik borjuis dan alternatif yang diusung politik kelas pekerja. Sangat relevan bila bisa mengagitasi perihal situasi sosial dan politik yang dihasilkan komposisi rejim yang dipenuhi para borjuis konglemerat: mulai dari Jusuf Kalla, Aburizal Bakrie, hingga ketua DPR Agung Laksono. Rejim politik kendaraan pengusaha ini menunjukkan ketidak pedulian pada nasib buruh, keterpurukan industri dan produksi nasional, bencana alam mau pun bencana akibat bobroknya industri jasa kita yang serakah tapi mengabaikan keselamatan konsumen mau pun lingkungan.
Kader-kader PRP harus mendorong agitasi yang massif dengan mempergunakan contoh kegagalan politik borjuasi. Taktiknya tidak harus monoton melalui aksi massa saja, tapi bisa juga dengan menggerakan perayaan-perayaan kecil di tingkat komunitas dalam memperingati May Day. Kalau hari raya keagamaan boleh dirayakan di komunitas oleh para penganutnya, maka pekerja dan pencari kerja juga berhak merayakan hari raya kelas pekerja. Bukan kah di komunitas pemukiman banyak kaum pekerja? Bukan kah keresahan kaum pekerja tidak hanya dirasakan di tempat kerjanya, tapi dibawa rasa itu juga ketika berada di angkutan umum, di lingkungan tempat tinggalnya, dan di berbagai ruang publik lainnya.
Metode pun harus didorong untuk membuka ruang buat eksperimen-eksperimen yang kreatif. Terbuka kesempatan mempraktekkan beragam perangkat kesenian: mulai dari seni pertunjukkan (bisa diusung para pemuda dan mahasiswa dengan mengamen dan mentas di ruang-ruang publik), seni rupa (lukisan dan aksi2x graviti yang mengekspresikan sentimen kekecewaan terhadap politik borjuis yang sekarang mendominasi). Puncak jangka dekatnya semua elemen rakyat pekerja yang terorganisir: mulai dari buruh pabrik, pemuda miskin kota di komunitas pemukiman, mahasiswa progresif, hingga intelektual kerakyatan yang banyak mengadu nasib di LSM2x; harus mensukseskan Mayday sebagai hari yang diwarnai dengan perayaan yang menghasilkan energi bergembira dan semangat. Tidak perlu terpaku pada jumlah peserta aksi -- yang belum bisa kita pastikan sekarang -- tapi dengan menunjukkan kepada khalayak umum bahwa tahun 2007 pun May Day masih dirayakan dengan bersemangat, dengan penampilan2x baru yang kreatif, maka dia bisa direspon simpatik sebagai Pawai Rakyat yang meluas dan membangkitakan harapan tentang berjayanya politik kelas pekerja yang lebih menjanjikan kesetaraan dan keadilan sosial.
Semoga, dan ayo kita bersiap
*Sekretaris Jenderal Komite Pusat PRP
Posted by
Perhimpunan Rakyat Pekerja
at
7:06 PM
0
comments
Pertemuan Multi Sektor PRP
Alfa Gumilang*
Pendahuluan
Berawal dari sebuah persoalan yang mungkin terlihat sederhana, namun ternyata tidak pernah terpikirkan oleh kita sebagai sebuah organisasi politik. Persoalan tersebut adalah bagaimana tugas kita sebagai organisasi politik yang mempunyai kader-kader di dalam ormas, tidak mampu menghubungkan agenda atau program bersama dengan tujuan untuk saling membantu pembesaran di gerakan masing-masing sektor rakyat yang di infiltrasi oleh kader-kader kita.
Sebagaimana terlihat di ormas-ormas sektoral yang diinfiltrasi oleh PRP, mereka seolah-olah terlihat berjalan sendiri-sendiri. Sehingga ada gerakan di satu sektor yang terlihat membesar secara signifikan, namun tidak pada sektor yang lain. Kita bisa ambil contoh, gerakan buruh (baik ditingkatan nasional maupun lokal) mengalami peningkatan baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Namun apa yang terjadi di gerakan sektoral lain? Mahasiswa, sampai saat ini mungkin bisa katakan gerakannya semakin menurun. Nah pada posisi inilah, PRP sebagai organisasi politik seharusnya mampu mengambil peran dalam menyelaraskan dan menyeimbangkan kekuatan gerakan-gerakan sektoral. Karena apabila hal ini terjadi terus menerus, dimana satu gerakan sektoral naik gerakan yang lain turun, dan seterusnya (tahun 90an gerakan mahsiswa besar, gerakan buruh kecil. Tahun 2000an sebaliknya). Maka bukan tidak mungkin apa yang menjadi tujuan kita yaitu bertenggernya kekuasaan rakyat pekerja di dalam tampuk negara, hanya akan menjadi isapan jempol belaka. Karena pasti kita sadari tak cukup hanya dengan satu gerakan di sektor masyarakat, tujuan kita akan tercapai. Penyatuan gerakan dari setiap sektor dengan diimbangi oleh kekuatan yang besar dari gerakan tersebut yang menjadi kunci kemenangan kita.
Mungkin saja tanpa kita sadari, bahwa kita sebagai organisasi politik (PRP) telah membuat sebuah agenda yang mempertemukan ormas-ormas yang diinfiltrasi oleh kader-kader PRP secara langsung. Namun hal ini biasanya hanya terjadi didalam satu moument tertentu saja, dan mungkin tidak ada tindak lanjutnya setelah moment tersebut selesai.
Lalu …………………..??????
Pembacaan tentang perlunya membuat “jembatan” antar sektor yang mengusung propaganda politik rakyat pekerja merupakan hasil dari sebuah diskusi antara PRP Pusat dengan PRP Jakarta mengenai kondisi dan perkembangan komite kota. Lalu tercetus lah sebuah gagasan tentang bagaimana merajut hubungan organisasi-organisasi massa melalui sebuah program-program kerja bersama yang berkelanjutan dan lebih organis dengan tujuanya untuk saling membantu menguatkan, memperbesar dan meradikalkan gerakan. Kongkritnya, bisa kita wujudkan pada satu program kerja antar organisasi yang berbeda sektor dimana gerakan buruh bisa membantu gerakan mahasiswa dalam pengorganisiran dan juga penyuntikan kesadaran mendekatkan rakyat pekerja ke kekuasaan di segala lini. Begitu pula hal yang serupa bisa dikembangkan pada sektor-sektor yang lain.
PRP Jakarta mencoba untuk mengawali ini dan sudah seperempat jalan dalam mengawal agenda ini. Dengan tahapan-tahapan kerja sebagi berikut:
Dibuatnya sebuah pertemuan antar sektor melalui ormas-ormas untuk sebuah agenda awal yaitu sharing dan diskusi dengan tema “mensinergiskan gerakan-gerakan rakyat.” Diskusi dengan tema itu diarahkan dengan alur pembicaraan tentang kecil dan terkotak-kotakanya gerakan rakyat saat ini (kondisi subjektif), dan minimnya respon gerakan rakyat dalam menghadapi dan mengangkat isu-isu sosial, ekonomi, politik (kondisi objektif dan perkembangan sitnas) Pertemuan awal ini memang masih terbatas pada organisasi-organisasi yang di bawah “cengkraman” PRP. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari cairnya pertemuan. Adapun target awal dari pertemuan ini akan terlontar kondisi real gerakan saat ini, khususnya di tingkatan kota dan kita harus bisa menghubungkannya dengan kondisi situasi daerah dan nasional saat ini.
Dorongan selanjutnya adalah terbentuknya satu program kerja bersama (akan dicoba dimaterialkan dalam kerangka menyambut May Day). Selanjutnya akan ada sebuah evaluasi bersama untuk melihat titik mana kelemahan dan kekuatan dari program tersebut, sebagai pijakan dalam program kerja bersama selanjutnya. Catatan lain untuk mensukseskan agenda ini adalah dengan membentuk semacam core (isinya adalah kader-kader PRP yang ada di ormas-ormas tersebut diatas) agar arah dari pertemuan orgasisasi lintas sektor ini sesuai dengan target PRP. Target dari pembentukan core, selain pengorganisiran kader baru, adalah terbangunya hubungan antar sektor yang lebih organis sebagai bentuk penguatan dan terbentuknya kesadaran politik kelas dalam gerakan-gerakan dimasing-masing sektor. Dalam pertemuan ini, PRP diibaratkan sebagai sebuah mesin penjahit antar ormas-ormas dan juga sebagai salah satu fasilitator dan pelopor pada pertemuan ini.
Praktek kerja semacam ini masih lah sangat baru bagi PRP Jakarta, dan mungkin bisa menjadi sebuah bentuk pengorganisiran baru, serta awal dari upaya mensinergiskan gerakan perlawanan rakyat. Hal yang penting adalah konsistensi kita dalam melakukan dan mengevaluasi tindakan-tindakan perjuangan rakyat pekerja.
*Sekretaris Kota PRP Komite Kota Jakarta Raya
Posted by
Perhimpunan Rakyat Pekerja
at
6:54 PM
0
comments
Labels: Kegiatan, Seluk Beluk
Friday, March 30, 2007
Menyambut Mayday 2007
1 Mei 2007 Harus Jadi Hari Yang Berkesan karena MayDay Hari Gembira buat Rakyat Pekerja
(Diskusi Pengantar Persiapan PRP Menyambut Mayday 2007)

Ide bergembira dengan merayakan sebuah libur kaum proletar sebagai sebuah cara untuk mendapatkan hak bekerja 8 jam sehari pertama kali lahir di Australia. Para pekerja di sana memutuskan pada tahun 1856 untuk mengorganisasikan sebuah hari yang sepenuhnya berhenti kerja bersamaan dengan rapat-rapat akbar dan hiburan sebagai sebuah unjuk rasa hak kerja 8 jam demi kerja 8 jam sehari. Awalnya, perayaan para pekerja Australia ini ditujukan hanya untuk dilaksanakan pada tahun 1856 saja. Tapi perayaan pertama ini memiliki sebuah efek yang sedemikian kuat pada mass proletariat di Australia, menghidupkan semangat merekadan mengarah pada agitasi baru, sehingga diputuskan untuk mengulangi perayaan ini setiap tahun.
(Rosa Luxemburg, What Are the Origins of May Day?/ Apa Asal Mulanya May Day?, 1894)
Tahun 2006 punya arti khusus buat sejarah kontemporer perayaan May Day di Indonesia karena besarnya kekuatan massa yang ikut serta, khususnya di kota-kota besar di Pulau Jawan, dalam perayaan hari buruh Internasional. Bagaikan air bah yang melanda pusat-pusat kekuasaan kota Jakarta, ratusan ribu massa aksi menjadi arus orang berbaris memenuhi, hingga praktis menghentikan arus kendaraan yang biasa melintas, di dua lokus utama:jalur bundaran HI-Istana Merdeka dan depan gerbang DPR.
Sungguhnya hanya massa Aliansi Buruh Menggugat (ABM) di jalur HI-Istana Merdeka yang dengan resmi dan terbuka mengumumkan bahwa mereka melakukan unjuk rasa di jalan dalam ,merayaakn Hari Buruh Internasional, dimana tema tahun tersebut mengajukan tuntutan penolakan terhadap rencana revisi Undang-Undang Ketenagakerjaan (UUK). Dua serikat buruh lain yang juga menurunkan massa dalam jumlah besar di lokus lain secara politik sebetulnya tidak berkeinginan merayakan Mayday karena konservatisme politik mereka yang anti warna politik kiri/sosialis.
Situasi yang terbentuk beberapa bulan menjelang perayaan Mayday sudah kadung disesaki oleh gelombang aksi penolakan Revisi UUK. Gelombang aksi yang mengambil bentuk-bentuk tindakan cenderung ofensif/menyerang, seperti: sweeping di pabrik-pabrik dan kawasan industri, demonstrasi yang melakukan pamer kekuatan massa seperti beberapa kali aksi besar di depan istana yang diikuti perusakan busway. Akibatnya meningkat lah suhu politik dan menebalnya opini publik tentang kemungkinan konfrontasi keras yang tak terhindarkan lagi antara sikap keras aksi buruh dan kengototan negara memaksa perubahan UUK. Memasuki tanggal 1 May , yang adalah hari Buruh Internasional, publik terkondisikan melihatnya sebagai gelanggang pertarungan yang menentukan.Semua kelompok buruh diuntungkan oleh suasana yang terbentuk, dan terjadi lah perayaan Mayday yang paling besar aksi massanya dalam sejarah Indonesia sejak Orde Baru. Amat banyak orang ingin turun ke jalan, mengharapkan melihat suatu kehebohan walau pun tidak satu pun tahu apa pastinya itu.
Ternyata sesuatu yang heboh itu tidak terjadi dalam bentuk kerusuhan atau kekerasan fisik seperti yang dipropagandakan rezim sebagai ancaman. Bentrokan akibat unjuk rasa menolak UUK baru terjadi dua hari berselang, ketika serikat buruh yang menghindari merayakan Mayday ternyata tidak bisa menghindar dari memanasnya energi massa anggotanya yang teradikalisasi oleh suasana politisasi yang intensif seputar momentum penolakan revisi UUK. Setelah itu revisi UUK diputuskan untuk ditunda oleh pemerintah dengan berbagai alasan, dan secara sepintas bisa diduga ada kenangan yang melihat Mayday sebagai faktor penting yang berpengaruh terhadap pilihan politik menunda revisi UUK. Hanya saja kesadaran rakyat pekerja belum tentu peka dengan implikasi dari taktik ini bahwa penundaan justru memungkinkan rejim borjuasi yang berkuasa mengelabui pandangan mata dan mempersiapkan cara mengubah UUK (yang juga sudah ditolak oleh banyak serikat buruh progresif karena bukan lah juga sebuah UU yang berpihak pada buruh) dengan cara yang lebih menghindari konfrontasi terbuka. Sebuah taktik politik yang bertumpu pada keyakinan bahwa rakyat mudah lupa, dan pimpinan-pimpinan rakyat pasti bisa dikooptasi.
Mayday sebagai bentuk Kesadaran yang Menyejarah
Perayaan May Day paska jatuhnya rezim Orde Baru-Suharto, yang kebijakan politiknya sangat anti kekuatan buruh progresif terorganisir, mulai dirayakan lagi oleh kaum buruh Indonesia sejak tahun 2000. Rezim memang berganti tapi tetap saja hegemoni politik kelas borjuasi bekerja lewat segala cara untuk mempertahankan tabu perayaan hari berbahagianya rakyat pekerja ini.Rejim borjuasi yang berganti-ganti di masa "reformasi (neoliberalisme)", semuanya menjadi sama dalam posisi yang tidak pernah mendukung usaha bangkitnya rakyat pekerja sebagai kekuatan politik.
Semua rezim borjuasi paska rezim otoriter pro pasar Suharto ternyata tetap mendasarkan kekuasaan politiknya demi melindungi kegiatan pembangunan ekonomi yang berorientasi pada usaha bersaing menjual produk pada pasar internasional. Keberhasilan pembangunan ekonomi diyakini sangat bergantung pada kemampuan memaksimalkan keunggulan komparatif produksi barang dan jasa yang bisa menghasilkan pendapatan nasional. Maksimalisasi keunggulan yang paling diandalkan adalah eksploitasi hubungan kerja (dan dimensi sosialnya) dalam konteks produksi, yang seminimal mungkin memenuhi kebutuhan-kebutuhan layak manusiawi bagi rakyat pekerja. Bentuknya bermacam-macam penindasan: upah buruh murah dibawah kelayakan, keselamatan kerja dilalaikan (dan terkait pada keselamatan produknya juga: lihat fenomena kecelakaan transportasi yang merajalela dewasa ini), waktu bekerja yang panjang dan mengabaikan aspek kesehatan, dan "jurus" memaksimalkan keuntungan yang termutahir adalah : dihancurkannya kepastian kerja dengan memaksimalkan pasar tenaga kerja yang lentur/fleksibel mengikuti kepentingan modal (Labour Market Flexibility).
Trotsky mencatat May Day mengandung tuntutan-tuntutan fundamental kaum proletar, yaitu: kerja 8 jam sehari (hak sipil politik sekaligus tuntutan ekonomi yang berpijak pada kebutuhan mempertahankan kemanusiaan kaum pekerja), solidaritas internasional (pemahaman bahwa yang dihadapi adalah sistem global), dan perjuangan melawan militerisme (yang dipergunakan untuk menindas aksi-aksi buruh) Tapi apakah setiap aksi May Day mampu memperjelas esensi dari 3 tuntutan fundamental itu? Jawabnya sangat tergantung pada strategi yang dipergunakan gerakan sosial, khususnya gerakan buruh, untuk mematrikan kesadaran itu di tingkatan massa, lewat berbagai jalur namun muaranya satu: terciptanya kesadaran kelas.
Justru strategi pembentukan kesadaran itu lah yang pertama kali dipilih oleh gerakan rakyat pekerja di Australia pada tahun 1856 seperti yang dicatat Luxemburg. Merayakan dengan kegembiraan dilakukan dalam bentuk rapat-rapat akbar dan berbagai hiburan telah menyatukan kerumunan massa dalam sentimen politik kelas yang berkesan mendalam. Kegembiraan yang menyebarkan energi keberanian dan pengenalan diri sendiri dalam identitas kesatuan sebagai kelas sosial yang berjuang melawan "nasib" ketertindasan. Akibatnya dia efektif bergulir terus dan tidak berhenti dipraktekan hanya di Australia, tapi jadi perayaan kaum buruh secara Internasional.
Semakin banyak orang yang berkumpul semakin meriah kegembiraan yang tercipta dari perayaan May Day. "The More The Merrier" begitu kata ungkapan bahasa Inggris, dan kegembiraan memudahkan berkembangnya aneka ragam ekspresi perlawanan kelas yang tidak melulu berbentuk agitasi politik secara vulgar. Membatasi terbangunnya budaya ekspresif dari aksi massa populer seperti May Day maka kekuatan konservatif dan reaksioner mencoba menghentikannya dengan 2 cara: pelarangan dan depolitisasi perayaan May Day. Pelarangan diharapkan menciptakan rasa takut yang menular dan akhirnya ditinggalkan oleh massa rakyat pekerja, sementara depolitisasi mengambil berbagai bentuk yang berusaha menjadikan May Day sekedar ritual/upacara tapi bukan lagi medium ekspresi politik kelas. Sejarah menunjukkan salah satu taktik yang umum diterapkan adalah meliburkan buruh pada saat May Day, libur yang diharapkan justru dipergunakan untuk kegiatan apa pun yang tidak politis.
Tampaknya belum ada yang telah menganalisa energi politik sekaligus kegembiraan yang bisa ditangkap dari momentum perayaan May Day -- terutama 2006 yang besar sekali dalam ukuran massa.Menunjukkan tidak ada yang sudah siap memahami kesadaran massa sebagai sebuah dimensi yang menyejarah. Akibatnya ketika secara empiris hingga hari ini tidak ada gejolak aksi buruh yang mengelegak seperti yang terjadi tahun lalu maka sedikit orang ingat arti penting energi kegembiraan dalam momentum perayaan May Day. Banyak pimpinan buruh sudah pesimis dengan kemungkinan membesarnya aksi May Day, walau menyadari bahwa semua agenda musuh yang berkeinginan melegalkan penataan penindasan buruh supaya lebih sesuai dengan reformasi 'neoliberal' ternyata terus berjalan. Bahkan ada statement "May Day 2006 terjadi karena serikat buruh konservatif lah yang memulai mengagitasi massa, dan kini mereka tidak melakukannya lagi sehingga peluang terulang kembali menjadi kecil"
Pertanyaan yang tidak (mau) dijawab adalah: "Apakah massa buruh memiliki memori/ingatan yang tersambung dengan kenangannya akan May Day yang fenomenal tahun lalu?" Tidak dijawab karena tidak ada yang tahu jawabannya dan bagaimana menemukan jawabannya. Waktu dibiarkan terus mengerogoti ke batas waktu hari-H tanggal 1 May. Bukti pasti memang tidak bisa didapatkan kecuali dengan melakukan pengukuran, tapi yang pasti orang/massa bisa lupa ketika tidak ada usaha mengingat apa yang pernah menjadi suatu kesadaran. Tugas dari Organisasi Politik Kelas Pekerja seperti PRP adalah bekerja dengan kesadaran massa yang menyejarah itu.
Bagaimana Membangun Ingatan Politik Kelas
Kita percaya bahwa Rakyat Pekerja seperti juga pengertian Proletar sesungguhnya memiliki pengertian yang tidak terbatas pada buruh saja. Unsur yang harus paling maju adalah elemen buruh karena secara potensial berkonfrontasi paling intensif dengan kapitalisme di proses produksi. Hanya saja mensimplifikasi posisi hirarkis (paling maju, paling baru, paling rentan, dll) diantara elemen rakyat pekerja memiliki implikasi yang fatalis juga. Kita tetap harus memperhatikan relasi konkret antara kapasitas politik dari masing-masing organisasi sektor (pembagian elemen rakyat pekerja berdasarkan tipe keterkaitannya dengan produksi) dengan dinamika perubahan konteks sosial politik yang terjadi.
Umumnya dulu praktek yang umum adalah memposisikan elemen sektor-sektor non buruh (dan tani) sebagai kelompok yang harus mendampingi/mengadvokasi/mensupport mobilisasi aksi buruh (dan tani) Ketika konteks sosial politik berubah, jarang ada revisi dari strategi lama gerakan "pendampingan". Implikasinya bisa akut dalam kesadaran yang menganggap formasi kelas sosial -- dalam hal ini kelas pekerja -- bukan lah proses yang menyejarah dan beririsan dengan berbagai dimensi lain yang umumnya melibatkan pengalaman bersama/kolektif menghadapi situasi politik yang konkret. Akibatnya terbina lah kesadaran bahwa Mahasiswa, Intelektual, Pemuda -- dan macam-macam kategori yang bermunculan dalam sejarah -- bukan lah bagian dari formasi kelas pekerja. Kelas pekerja secara reduksionis disempitkan dalam pemahaman non Marxis yaitu sebagai posisi sosial dalam proses produksi (buruh atau pengusaha) dan bukan berangkat dari pengertian mengenai relasi sosial produksi dan formasi kelas yang menyejarah karena pengalamana bersama.
Jadi bisa kita periksa kegagapan gerakan buruh ketika berhadapan dengan reaksi propaganda balik dari rejim tahun 2006 yang menyatakan "tuntutan menolak pasar tenaga kerja yang fleksibel adalah sikap egois kaum buruh karena membatasi jumlah penyerapan tenaga kerja baru" Dalam asumsi paradigmatik rejim borjuis, krisis ekonomi bisa diatasi bila aturan ketenagakerjaan lebih kompromistis dengan keinginan modal yang menghendaki dikuranginya perlindungan kepastian hubungan kerja ( diperkenankan secara luas sistem outsourcing dan sistem kontrak) Seolah peran pengorbanan di lapangan politik ketenagakerjaan itu akan menjadi solusi yang adil bagi semua dan pada gilirannya akan menghasilkan kesejahteraan buat semua. Kita semua tahu itu tidak mungkin terjadi kalau kaum buruh bukan lah kekuatan politik yang memiliki posisi tawar yang sebanding dengan kaum borjuasi dan negara yang dikuasainya. Tapi tetap saja gerakan buruh tidak bisa mempropagankan secara luas seperti apa solusi tandingan yang bisa memberikan keadilan bagi kelas-kelas sosial lain -- termasuk bagi kelas buruh sendiri yang banyak anggotanya kehilangan pegangan karena diterjang fenomena PHK massal yang terus menerus. Ada persoalan dalam "Soal apa yang dipropagandakan" dan "Taktik-taktik propaganda"
Bila kita mau merubah cara pandang dan tindakan, maka jelas solusinya ada pada peningkatan peran elemen-elemen kelas buruh di ruang-ruang yang lebih luas dengan taktik yang lebih variatif pula. Bukan lagi pakai taktik mahasiswa sebagai tenaga mobilisasi untuk aksi, yang sekarang telah dikuasai dengan baik fungsinya oleh serikat buruh, tapi melibatkan mahasiswa untuk mengalami politisasi dan ideologisasi politik kelas pekerja. Begitu juga dengan elemen lain; seperti Pemuda, dan lain-lainnya yang umumnya berlokasi sosial di komunitas pemukiman.
Cara yang bergembira dan bersemangat, umumnya difasilitasi cara-cara kebudayaan/kesenian, akan menjadi alat propaganda politik kelas yang menunjukkan perlunya memberi ruang kepemimpinan politik pada kelas sosial selain borjuis. Masyarakat bisa diajak melihat kontras antara politik borjuis dan alternatif yang diusung politik kelas pekerja. Sangat relevan bila bisa mengagitasi perihal situasi sosial dan politik yang dihasilkan komposisi rejim yang dipenuhi para borjuis konglemerat: mulai dari Jusuf Kalla, Aburizal Bakrie, hingga ketua DPR Agung Laksono. Rejim politik kendaraan pengusaha ini menunjukkan ketidak pedulian pada nasib buruh, keterpurukan industri dan produksi nasional, bencana alam mau pun bencana akibat bobroknya industri jasa kita yang serakah tapi mengabaikan keselamatan konsumen mau pun lingkungan.
Kader-kader PRP harus mendorong agitasi yang massif dengan mempergunakan contoh kegagalan politik borjuasi. Taktiknya tidak harus monoton melalui aksi massa saja, tapi bisa juga dengan menggerakan perayaan-perayaan kecil di tingkat komunitas dalam memperingati May Day. Kalau hari raya keagamaan boleh dirayakan di komunitas oleh para penganutnya, maka pekerja dan pencari kerja juga berhak merayakan hari raya kelas pekerja. Bukan kah di komunitas pemukiman banyak kaum pekerja? Bukan kah keresahan kaum pekerja tidak hanya dirasakan di tempat kerjanya, tapi dibawa rasa itu juga ketika berada di angkutan umum, di lingkungan tempat tinggalnya, dan di berbagai ruang publik lainnya.
Metode pun harus didorong untuk membuka ruang buat eksperimen-eksperimen yang kreatif. Terbuka kesempatan mempraktekkan beragam perangkat kesenian: mulai dari seni pertunjukkan (bisa diusung para pemuda dan mahasiswa dengan mengamen dan mentas di ruang-ruang publik), seni rupa (lukisan dan aksi2x graviti yang mengekspresikan sentimen kekecewaan terhadap politik borjuis yang sekarang mendominasi). Puncak jangka dekatnya semua elemen rakyat pekerja yang terorganisir: mulai dari buruh pabrik, pemuda miskin kota di komunitas pemukiman, mahasiswa progresif, hingga intelektual kerakyatan yang banyak mengadu nasib di LSM2x; harus mensukseskan Mayday sebagai hari yang diwarnai dengan perayaan yang menghasilkan energi bergembira dan semangat. Tidak perlu terpaku pada jumlah peserta aksi -- yang belum bisa kita pastikan sekarang -- tapi dengan menunjukkan kepada khalayak umum bahwa tahun 2007 pun May Day masih dirayakan dengan bersemangat, dengan penampilan2x baru yang kreatif, maka dia bisa direspon simpatik sebagai Pawai Rakyat yang meluas dan membangkitakan harapan tentang berjayanya politik kelas pekerja yang lebih menjanjikan kesetaraan dan keadilan sosial.
Semoga, dan ayo kita bersiap
Posted by
Perhimpunan Rakyat Pekerja
at
5:10 PM
0
comments

